Amal sedikit dari hati yang zahid tidak bisa dikatakan sedikit. Amal banyak dari hati yang tamak tidak bisa dikatakan banyak.
Seorang zahid adalah orang yang tidak bergantung pada dunia. Amalnya, walopun secara kasat mata tampak sedikit, secara maknawi amatlah banyak karena terbebas dari cacat dan kekurangan yang membuat amal itu tidak diterima, seperti berniat riya', pura-pura dihadapan manusia, mengharap keuntungan duniawi, atau tanpa kehadiran hati dihadapan Tuhan.
Sementara itu, amal yang bersumber dari hati yang tamak terhadap dunia, walaupun secara kasat mata amal itu terlihat banyak, secara maknawi amal itu dianggap sedikit karena tidak terbebas dari hal-hal yang mengotori dan mengurangi nilainya.
Diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud, " Dua rakaat (shalat sunah) dari seorang zahid yang alim lebih baik daripada ibadah para 'abid dan mujtahid sepanjang hidup mereka."
Saturday, October 3, 2015
Friday, October 2, 2015
Bisa jadi, perbuatan burukmu tampak baik dimatamu karena persahabatanmu dengan orang yang lebih buruk daripada dirimu.
Artinya, berteman
dengan orang yang kualitas kebaikannya berada dibawahmu amat berbahaya karena
bisa menyamarkan aib dan kekuranganmu. Akibatnya, kau akan selalu berbaik
sangka terhadap dirimu sendiri. Kau bangga dengan amalmu dan merasa puas dengan
kondisimu sehingga kau rela hati dan selalu melihat kebaikan-kebaikanmu. Itu
adalah pangkal segala keburukan.
Boleh saja kau
berteman dengan orang yang keadaanya tidak membuatmu bersemangat dan ucapannya
tidak membimbingmu ke jalan Allah asalkan orang itu sederajat denganmu agar
pertemananmu dengannya tidak membahayakanmu.
Disini Ibnu
Atha’illah ingin menjelaskan bahwa pertemanan dengan orang-orang ’arif terbagi menjadi dua ; pertemanan yang
didasari keinginan dan pertemanan yang mengharap berkah.
Pertemanan yang
didasari keinginan ialah pertemanan yang harus memenuhi syarat-syaratnya.
Kesimpulannya, keberadaan seorang murid dengan syekh atau gurunya seperti
seonggok mayat di tangan para pemandi mayat.
Adapun pertemanan
untuk mengharap berkah ialah pertemanan yang tujuannya masuk ke satu kaum dan
berpakaian dengan pakaian mereka, serta tunduk pada peraturan mereka. Di sini
tidak perlu ada syarat-syarat pertemanan. Yang paling penting adalah bagaimana
ia berpegang pada batasan-batasan syara’. Diharapkan dari pertemanannya dengan
kaum itu, ia akan mendapatkan berkah mereka dan bisa sampai ke maqam yang telah
mereka raih.
Thursday, October 1, 2015
Persahabatan dan Orang yang Pantas Dijadikan Sahabat.
Jangan kau temani
orang yang keadaanya tidak membuatmu bersemangat dan ucapannya tidak
membimbingmu ke jalan Allah.
Seorang murid
dilarang berteman dengan orang semacam itu sekalipun orang itu adalah ahli
ibadah atau ahli zuhud karena dianggap tidak ada gunanya. Sebaliknya, kau
disarankan berteman dengan orang yang membuat bersemangat dan ucapannya
membimbingmu ke jalan Allah.
Misalnya, orang
yang tekadnya tinggi senantiasa bergantung kepada Allah, jauh dari makhluk,
atau dalam setiap kebutuhannya tidak bertumpu kecuali kepada Allah dan dalam
setiap perkara tidak bertawakal kepada selain-Nya sehingga di matanya seluruh
manusia tak berarti apa-apa, tidak bisa mendatangkan bahaya ataupun manfaat.
Bahkan, ia menganggap dirinya sendiri rendah dan tak berguna, tidak mampu
berbuat sesuatu, dan tidak bisa menentukan nasibnya sendiri. Dalam setiap
amalnya, ia tetap berjalan pada jalur syara’, tanpa melebih-lebihkannya atau
menguranginya. Inilah sifat orang-orang ’arif yang mengenal Allah.
Menemani
orang-orang seperti itu, walopun
ibadahnya sedikit dan amalan sunahnya tidak banyak, amat dianjurkan bagi
seorang murid karena banyak mendatangkan manfaat, baik dari sisi agama maupun
dunia sebab manusia selalu mengikuti tabiat manusia lain.
Adapun
orang-orang yang tidak memiliki sifat-sifat diatas, kita hanya diperbolehkan
bergaul dengan mereka secara lahir, tidak lebih karena tidak ada gunanya
bergaul dengan mereka. Jika mereka sederajat denganmu, pergaulanmu dengan
meraka tidak akan mendatangkan bahaya apa-apa bagimu.
Siapa yang hijarhnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya
Dengarlah sabda
Rasullullah,”Siapa yang hijarhnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya
kepada Allah dan rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya kepada dunia yang ingin
diraihnya atau kepada perempuan yang ingin dinikahinya maka hijrahnya itu
kepada yang ditujunya.” Pahamilah sabda Rasullullah ini dan perhatikan jika kau
memiliki kecerdasan dan pemahaman.
Hadits ini
menegaskan makna hikmah sebelumnya. Hadis ini patut diperhatikan dan dicamkan
baik-baik, terutama pada bagian akhir, yaitu bahwa hijrah seseorang akan
berakhir ditempat yang menjadi tujuan hijrahnya. Maknanya, orang yang hijrahnya
kepada dunia saja tidak akan meraih pencapaian dan kedekatan yang diraih oleh
orang-orang yang berhijrah kepada Allah dan rasul-Nya. Seakan Rasulullah
memperingatkan kita tentang pengaruh buruk dunia dan perempuan terhadap jiwa
bila kita terlalu terobsesi pada dunia dan perempuan.
Sabda beliau ”
maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya” bermakna pergi dari alam menuju
Pencipta alam. Inilah yang dituntut dari seorang hamba. Adapun makna ungkapan
”maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya” adalah tetap berada di alam,
tidak kemana-mana, dan hanya berputar-putar di tempat.
Kesimpulannya,
kita dituntut untuk menguatkan tekad, menjauhkan keinginan dari makhluk dan
menggantungkan diri kepada Yang Maha
Haq. Tentu, faktor yang bisa memudahkan kita sampai pada maqam ini ialah
pergaulan dengan kaum ’Arif yang mengenal Allah.
Wednesday, September 30, 2015
Beramal Demi Pahala adalah Berpindah dari Alam ke Alam, dan Perpindahan Terbaik adalah dari Alam ke Pencipta Alam.
Jangan kau pergi
dari satu alam ke alam lain sehingga kau menjadi seperti keledai penggilingan
yang berputar-putar, tempat yang ia tuju adalah tempat ia beranjak. Namun
pergilah dari alam menuju Pencipta Alam. ” Sesungguhnya kepada Tuhanmu puncak
segala tujuan.” (QS. An-Najm :42)
Maksudnya adalah
beramal disertai dengan sifat riya’ atau sifat-sifat tercela lainnya dan tidak bernilai
syar’i. Jika seseorang murid bermujahadah, lalu berhasil menjauhi sifat-sifat
tercela, tetapi pada saat yang sama ia mengharapkan pahala dan ketinggian
derajat atau maqam, ia masih dianggap tercela di mata para ’arif. Yang terpuji
adalah yang meniatkan setiap amalnya hanya karena Allah semata.
Ibnu Atha’illah
mengumpamakan kepergian dari satu alam ke alam lain dengan perjalanan keledai
penggilingan yang hanya berputar-putar di tempatnya. Demikian pula dengan amal
yang tidak ditujukan karena Allah. Orang yang beramala demi mengharap pahala,
misalnya, dianggap sebagai orang yang bepergian dari satu alam yakni alam
Riya’, menuju alam lain, yakni alam pahala. Semua alam adalah sama. Sama-sama
materi.
Yang benar adalah
kau haru pergi dari alam menuju Pencipta alam dengan cara mengikhlaskan amalmu
hanya untuk-Nya dan tidak berharap balasan, baik langsung maupun tak langsung.
Siapa yang beramal untuk mendapatkan kedudukan atau maqam tertentu maka dia
akan menjadi budak kedudukan itu. Siapa yang beramal karena Allah semata maka
dia akan menjadi hamba Allah. Ini sama dengan kepergiannya dari alam menuju
Pencipta Alam.
”Sesungguhnya,
Tuhanmu adalah puncak segala tujuan.” Maksudnya, perjalananmu akan berakhir di
hadirat-Nya sehingga keinginanmu terwujud. Sebaliknya, orang yang pergi dari
satu alam ke alam lain, perjalanannya tidak akan pernah berujung kepada Allah
dan ia tidak pernah akan sampai kepada-Nya.
Sungguh aneh, Orang menghindar dari sosok yang tak dihindari, lalu mencari sesuatu yang tidak kekal.
Sungguh aneh,
Orang menghindar dari sosok yang tak dihindari, lalu mencari sesuatu yang tidak
kekal. ” Sesungguhnya, mata kepala itu tidak buta, tetapi yang buta adalah mata
hati yang ada di dalam dada.” (QS. Al- Hajj :46)
Sungguh
mengherankan, orang ingin menghindari Allah dengan tidak melakukan apa yang
sudah ditetapkan-Nya untuknya dan lebih suka mencari dunia dan perkara-perkara
selain-Nya karena mengikuti hawa nafsu.
Tindakan seperti
ini bersumber dari kebutaan mata hati dan kebodohannya tentang Tuhannya karena
ia menukar sesuatu yang teramat baik dengan sesuatu yang hina. Ia juga lebih
mengutamakan yang fana daripada yang kekal dan tak bisa dihindarinya. Sekiranya
ia memiliki mata hati yang tajam, niscaya ia takkan melakukan hal itu.
Tuesday, September 29, 2015
Berbaik sangka Kepada Allah
Jika kau tidak bisa berbaik sangka kepada Allah karena
kebaikan sifat-sifat-Nya, berbaik sangkalah kepada-Nya atas kebaikan
perlakuan-Nya terhadapmu. Bukankah Dia selalu memberimu yang baik-baik dan
mengaruniaimu berbagai kenikmatan ?
Dalam hikmah ini, Ibnu Atha’illah mengisyaratkan bahwa dalam
berbaik sangka kepada Allah, manusia terbagi menjadi dua golongan, golongan
khusus dan golongan awam.
Golongan khusus berbaik sangka kepada Allah atas
sifat-sifat-Nya yang baik. Sementara itu, golongan umum berbaik sangka kepada
Allah atas perlakuan-Nya yang baik terhadap diri mereka, berupa karunia dan
nikmat yang telah diberikan-Nya kepada mereka.
Ada perbedaan yang mencolok antara dua maqam tersebut. Ibnu
Atha’illah sekan berkata,”Wahai murid, kau harus berbaik sangka kepada Allah
secara mutlak, baik itu atas manfaat yang telah diberikan-Nya maupun bahaya
yang telah dijauhkan-Nya darimu. Kau tidak boleh berpaling kepada selain-Nya.
Jika kau tak sanggup berbaik sangka kepada-Nya menurut maqam orang khusus, kau
bisa berbaik sangka kepada-Nya menurut maqam orang awam. Sikap berbaik sangkamu
kepada Allah atas kebaikan sifat-sifat-Nya akan menumbuhkan cinta dan tawakal
yang benar kepada-Nya. Baik sangkamu kepada-Nya atas perlakuan-Nya yang baik
terhadapmu akan membuahkan syukur atas nikmat dan rahmat-Nya.
Subscribe to:
Posts (Atom)