Saturday, October 3, 2015

Zuhud adalah Faktor Terbesar dalam Menumbuhkan Amal

Amal sedikit dari hati yang zahid tidak bisa dikatakan sedikit. Amal banyak dari hati yang tamak tidak bisa dikatakan banyak.

Seorang zahid adalah orang yang tidak bergantung pada dunia. Amalnya, walopun secara kasat mata tampak sedikit, secara maknawi amatlah banyak karena terbebas dari cacat dan kekurangan yang membuat amal itu tidak diterima, seperti berniat riya', pura-pura dihadapan manusia, mengharap keuntungan duniawi, atau tanpa kehadiran hati dihadapan Tuhan.

Sementara itu, amal yang bersumber dari hati yang tamak terhadap dunia, walaupun secara kasat mata amal itu terlihat banyak, secara maknawi amal itu dianggap sedikit karena tidak terbebas dari hal-hal yang mengotori dan mengurangi nilainya.

Diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud, " Dua rakaat (shalat sunah) dari seorang zahid yang alim lebih baik daripada ibadah para 'abid dan mujtahid sepanjang hidup mereka."

Friday, October 2, 2015

Bisa jadi, perbuatan burukmu tampak baik dimatamu karena persahabatanmu dengan orang yang lebih buruk daripada dirimu.

Artinya, berteman dengan orang yang kualitas kebaikannya berada dibawahmu amat berbahaya karena bisa menyamarkan aib dan kekuranganmu. Akibatnya, kau akan selalu berbaik sangka terhadap dirimu sendiri. Kau bangga dengan amalmu dan merasa puas dengan kondisimu sehingga kau rela hati dan selalu melihat kebaikan-kebaikanmu. Itu adalah pangkal segala keburukan.

Boleh saja kau berteman dengan orang yang keadaanya tidak membuatmu bersemangat dan ucapannya tidak membimbingmu ke jalan Allah asalkan orang itu sederajat denganmu agar pertemananmu dengannya tidak membahayakanmu.

Disini Ibnu Atha’illah ingin menjelaskan bahwa pertemanan dengan orang-orang ’arif  terbagi menjadi dua ; pertemanan yang didasari keinginan dan pertemanan yang mengharap berkah.

Pertemanan yang didasari keinginan ialah pertemanan yang harus memenuhi syarat-syaratnya. Kesimpulannya, keberadaan seorang murid dengan syekh atau gurunya seperti seonggok mayat di tangan para pemandi mayat.


Adapun pertemanan untuk mengharap berkah ialah pertemanan yang tujuannya masuk ke satu kaum dan berpakaian dengan pakaian mereka, serta tunduk pada peraturan mereka. Di sini tidak perlu ada syarat-syarat pertemanan. Yang paling penting adalah bagaimana ia berpegang pada batasan-batasan syara’. Diharapkan dari pertemanannya dengan kaum itu, ia akan mendapatkan berkah mereka dan bisa sampai ke maqam yang telah mereka raih. 

Thursday, October 1, 2015

Persahabatan dan Orang yang Pantas Dijadikan Sahabat.

Jangan kau temani orang yang keadaanya tidak membuatmu bersemangat dan ucapannya tidak membimbingmu ke jalan Allah.


Seorang murid dilarang berteman dengan orang semacam itu sekalipun orang itu adalah ahli ibadah atau ahli zuhud karena dianggap tidak ada gunanya. Sebaliknya, kau disarankan berteman dengan orang yang membuat bersemangat dan ucapannya membimbingmu ke jalan Allah.

Misalnya, orang yang tekadnya tinggi senantiasa bergantung kepada Allah, jauh dari makhluk, atau dalam setiap kebutuhannya tidak bertumpu kecuali kepada Allah dan dalam setiap perkara tidak bertawakal kepada selain-Nya sehingga di matanya seluruh manusia tak berarti apa-apa, tidak bisa mendatangkan bahaya ataupun manfaat. Bahkan, ia menganggap dirinya sendiri rendah dan tak berguna, tidak mampu berbuat sesuatu, dan tidak bisa menentukan nasibnya sendiri. Dalam setiap amalnya, ia tetap berjalan pada jalur syara’, tanpa melebih-lebihkannya atau menguranginya. Inilah sifat orang-orang ’arif yang mengenal Allah.

Menemani orang-orang seperti itu, walopun  ibadahnya sedikit dan amalan sunahnya tidak banyak, amat dianjurkan bagi seorang murid karena banyak mendatangkan manfaat, baik dari sisi agama maupun dunia sebab manusia selalu mengikuti tabiat manusia lain.


Adapun orang-orang yang tidak memiliki sifat-sifat diatas, kita hanya diperbolehkan bergaul dengan mereka secara lahir, tidak lebih karena tidak ada gunanya bergaul dengan mereka. Jika mereka sederajat denganmu, pergaulanmu dengan meraka tidak akan mendatangkan bahaya apa-apa bagimu. 

Siapa yang hijarhnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya

Dengarlah sabda Rasullullah,”Siapa yang hijarhnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya kepada dunia yang ingin diraihnya atau kepada perempuan yang ingin dinikahinya maka hijrahnya itu kepada yang ditujunya.” Pahamilah sabda Rasullullah ini dan perhatikan jika kau memiliki kecerdasan dan pemahaman.


Hadits ini menegaskan makna hikmah sebelumnya. Hadis ini patut diperhatikan dan dicamkan baik-baik, terutama pada bagian akhir, yaitu bahwa hijrah seseorang akan berakhir ditempat yang menjadi tujuan hijrahnya. Maknanya, orang yang hijrahnya kepada dunia saja tidak akan meraih pencapaian dan kedekatan yang diraih oleh orang-orang yang berhijrah kepada Allah dan rasul-Nya. Seakan Rasulullah memperingatkan kita tentang pengaruh buruk dunia dan perempuan terhadap jiwa bila kita terlalu terobsesi pada dunia dan perempuan.

Sabda beliau ” maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya” bermakna pergi dari alam menuju Pencipta alam. Inilah yang dituntut dari seorang hamba. Adapun makna ungkapan ”maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya” adalah tetap berada di alam, tidak kemana-mana, dan hanya berputar-putar di tempat.


Kesimpulannya, kita dituntut untuk menguatkan tekad, menjauhkan keinginan dari makhluk dan menggantungkan diri kepada Yang Maha  Haq. Tentu, faktor yang bisa memudahkan kita sampai pada maqam ini ialah pergaulan dengan kaum ’Arif yang mengenal Allah.

Wednesday, September 30, 2015

Beramal Demi Pahala adalah Berpindah dari Alam ke Alam, dan Perpindahan Terbaik adalah dari Alam ke Pencipta Alam.

Jangan kau pergi dari satu alam ke alam lain sehingga kau menjadi seperti keledai penggilingan yang berputar-putar, tempat yang ia tuju adalah tempat ia beranjak. Namun pergilah dari alam menuju Pencipta Alam. ” Sesungguhnya kepada Tuhanmu puncak segala tujuan.” (QS. An-Najm :42)

Maksudnya adalah beramal disertai dengan sifat riya’ atau sifat-sifat tercela lainnya dan tidak bernilai syar’i. Jika seseorang murid bermujahadah, lalu berhasil menjauhi sifat-sifat tercela, tetapi pada saat yang sama ia mengharapkan pahala dan ketinggian derajat atau maqam, ia masih dianggap tercela di mata para ’arif. Yang terpuji adalah yang meniatkan setiap amalnya hanya karena Allah semata.

Ibnu Atha’illah mengumpamakan kepergian dari satu alam ke alam lain dengan perjalanan keledai penggilingan yang hanya berputar-putar di tempatnya. Demikian pula dengan amal yang tidak ditujukan karena Allah. Orang yang beramala demi mengharap pahala, misalnya, dianggap sebagai orang yang bepergian dari satu alam yakni alam Riya’, menuju alam lain, yakni alam pahala. Semua alam adalah sama. Sama-sama materi.

Yang benar adalah kau haru pergi dari alam menuju Pencipta alam dengan cara mengikhlaskan amalmu hanya untuk-Nya dan tidak berharap balasan, baik langsung maupun tak langsung. Siapa yang beramal untuk mendapatkan kedudukan atau maqam tertentu maka dia akan menjadi budak kedudukan itu. Siapa yang beramal karena Allah semata maka dia akan menjadi hamba Allah. Ini sama dengan kepergiannya dari alam menuju Pencipta Alam.


”Sesungguhnya, Tuhanmu adalah puncak segala tujuan.” Maksudnya, perjalananmu akan berakhir di hadirat-Nya sehingga keinginanmu terwujud. Sebaliknya, orang yang pergi dari satu alam ke alam lain, perjalanannya tidak akan pernah berujung kepada Allah dan ia tidak pernah akan sampai kepada-Nya.

Sungguh aneh, Orang menghindar dari sosok yang tak dihindari, lalu mencari sesuatu yang tidak kekal.

Sungguh aneh, Orang menghindar dari sosok yang tak dihindari, lalu mencari sesuatu yang tidak kekal. ” Sesungguhnya, mata kepala itu tidak buta, tetapi yang buta adalah mata hati yang ada di dalam dada.” (QS. Al- Hajj :46)

Sungguh mengherankan, orang ingin menghindari Allah dengan tidak melakukan apa yang sudah ditetapkan-Nya untuknya dan lebih suka mencari dunia dan perkara-perkara selain-Nya karena mengikuti hawa nafsu.


Tindakan seperti ini bersumber dari kebutaan mata hati dan kebodohannya tentang Tuhannya karena ia menukar sesuatu yang teramat baik dengan sesuatu yang hina. Ia juga lebih mengutamakan yang fana daripada yang kekal dan tak bisa dihindarinya. Sekiranya ia memiliki mata hati yang tajam, niscaya ia takkan melakukan hal itu.

Tuesday, September 29, 2015

Berbaik sangka Kepada Allah

Jika kau tidak bisa berbaik sangka kepada Allah karena kebaikan sifat-sifat-Nya, berbaik sangkalah kepada-Nya atas kebaikan perlakuan-Nya terhadapmu. Bukankah Dia selalu memberimu yang baik-baik dan mengaruniaimu berbagai kenikmatan ?


Dalam hikmah ini, Ibnu Atha’illah mengisyaratkan bahwa dalam berbaik sangka kepada Allah, manusia terbagi menjadi dua golongan, golongan khusus dan golongan awam.

Golongan khusus berbaik sangka kepada Allah atas sifat-sifat-Nya yang baik. Sementara itu, golongan umum berbaik sangka kepada Allah atas perlakuan-Nya yang baik terhadap diri mereka, berupa karunia dan nikmat yang telah diberikan-Nya kepada mereka.


Ada perbedaan yang mencolok antara dua maqam tersebut. Ibnu Atha’illah sekan berkata,”Wahai murid, kau harus berbaik sangka kepada Allah secara mutlak, baik itu atas manfaat yang telah diberikan-Nya maupun bahaya yang telah dijauhkan-Nya darimu. Kau tidak boleh berpaling kepada selain-Nya. Jika kau tak sanggup berbaik sangka kepada-Nya menurut maqam orang khusus, kau bisa berbaik sangka kepada-Nya menurut maqam orang awam. Sikap berbaik sangkamu kepada Allah atas kebaikan sifat-sifat-Nya akan menumbuhkan cinta dan tawakal yang benar kepada-Nya. Baik sangkamu kepada-Nya atas perlakuan-Nya yang baik terhadapmu akan membuahkan syukur atas nikmat dan rahmat-Nya.