Monday, December 7, 2015

Penolakan Bisa Jadi adalah Pemberian

Penolakan Bisa Jadi adalah Pemberian
Ketika Dia memberimu, Dia mempersaksikan kebaikan-Nya. Ketika Dia tidak memberimu, Dia memperlihatkan kuasa-Nya. Pada semua itu, Dia memperkenalkan diri kepadamu dan mendatangimu lewat kelembutan-Nya.
Ketika memberimu, Allah menampakkan sifat-sifat kebaikan-Nya, berupa kemuliaan, kemurahan, kebaikan, kelembutan, kasih sayang, dan sebagainya. Ketika Dia menolak memberimu, Dia menampakkan sifat-sifat kuasa-Nya yang mengandung keperkasaan, keunggulan, paksaan, kesombongan, kekerasan dan ketidakbutuhan-Nya. Dalam dua kondisi itu, Allah mendekatimu dan menghendakimu untuk mengenali-Nya.
Kita pun demikian. Bila ingin dikenal orang lain, kita bisa memberi pemberian kepada orang itu, bisa juga menyiksanya. Kedua cara tersebut menjadi sebab kita dikenal oleh orang lain.
Maka pahamilah, dengan kedua cara itu, Allah mendekatimu. Karena pengetahuanmu tentang sifat-sifat kebaikan dan kuasa-Nya merupakan karunia dan kasih sayang terbesar Allah untukmu. Oleh sebab itu, kau harus mensyukurinya.
Kesimpulannya, yang dituntut dari para hamba adalah agar mereka mengenali Tuhannya melalui sifat-sifat dan nama-nama baik-Nya. Tak ada jalan lain untuk mengenali-Nya, kecuali Allah sendiri yang mengenalkan diri-Nya kepada mereka.
Caranya, bisa dengan menurunkan musibah-musibah dan cobaan-cobaan-Nya,bisa pula dengan menganugrahkan pemberian-pemberiaa-Nya yang sesuai atau berbeda dengan keinginan mereka. Siapa yang mengenal Tuhannya dengan baik, ia tidak akan terlena oleh kepentingan diri sendiri. Ia tidak akan membedakan antara pemberian dan penolakan Allah karena masing-masing merupakan jalan yang membawanya menuju makrifat tentang sifat Allah, baik itu yang berhubungan dengan sifat-sifat baik-Nya maupun dengan sifat-sifat kuasa-Nya.

Ibadah yang cacat

Ibadah yang cacat
Siapa yang beribadah karena mengharap sesuatu dari Allah atau untuk menghindari hukuman-Nya berarti belum menunaikan hak-hak sifat-Nya.
Hal itu dikarenakan, ia mengharap pahala dari-Nya atau menghindari hukuman yang akan dijatuhkan-Nya di hari akhir. Di sini, ia hanya ingin mendapat keuntungan pribadinya, berupa pahala atau terbebas dari siksa. Lain halnya jika ia beribadah kepada-Nya untuk mengagungkan dan memuliakan-Nya, serta menunaikan sifat-sifat terpuji-Nya yang tak seorang pun menandingi-Nya. Saat itu, berarti ia telah melaksanakan hak sifat-sifat-Nya.
Allah swt. telah mewayuhkan kepada Daud as., “Orang yang paling Kucintai ialah yang menyembah-Ku tanpa keinginan apa-apa, tetapi hanya ingin menunaikan hak-hak rububiyyah-Ku.”
Dalam hadits disebutkan, ”Janganlah seseorang dari kalian menjadi seperti hamba yang buruk, jika takut barulah ia bekerja. Jangan pula menjadi seperti seorang pekerja yang buruk, jika tidak diberi upah, tidak mau bekerja.”

Cukuplah sebagai balasan bagi orang-orang yang beramal, apa yang membuat hati mereka terbuka pada ketaatan dan apa yang membuat hati mereka puas karena dekat dengan-Nya.

Cukuplah sebagai balasan bagi orang-orang yang beramal, apa yang membuat hati mereka terbuka pada ketaatan dan apa yang membuat hati mereka puas karena dekat dengan-Nya.
Saat mereka taat kepada Allah, Dia memberi mereka pemberian-pemberian Ilahi, ilham laduni, dan manisnya duduk di hadapan sang Raja Diraja.
Seorang berkata,” Di dunia ini tidak ada waktu yang senikmat kenikmatan ahli surga, kecuali manisnya waktu bermunajat yang didapat ahli tamalluq (yang biasa duduk manja dihadapan Tuhannya) di malam hari.”
Rasa manis dan nikmat munajat inilah yang disebut oleh para ahli tarekat sebagai ahwal (keadaan batin), mawajid (emosi), dan adzaq (perasaan). Kesenangan dan rasa manis itu terjadi setelah sebuah amal rampung.
Orang-orang mengatakan, tiada kesenangan paling tinggi selain rasa bahagia hati karena melihat indahnya kekasih. Ini adalah kondisi yang membuat seorang yang sedang jatuh cinta semakin segar dan semangat, membuat waktunya semakin jernih, dan di dalamnya ia takut petaka kehinaan.

Cukuplah sebagai balasan Allah atas ketaatanmu, ketika Dia Meridhaimu sebagai pelaku ketaatan.

Cukuplah sebagai balasan Allah atas ketaatanmu, ketika Dia Meridhaimu sebagai pelaku ketaatan.
Maknanya, Allah memberi pahala langsung kepadamu dengan membimbingmu agar selalu melakukan ketaatan dan menakdirkanmu untuk itu. Jika tidak, sadarilah bahwa sifat-sifat aslimu adalah malas dan tidak peduli pada ketaatan. Jika Allah membimbingmu untuk melakukan ketaatan, berarti itulah pahala-Nya yang langsung untukmu di dunia karena hal itu bisa membuatmu dekat dengan-Nya. Lagi pula, kau hanyalah hamba yang lemah dan tak layak untuk memberikan pelayanan kepada Sang Raja Diraja. Oleh sebab itu, saat kau dekat untuk melayani-Nya dan Dia meridhaimu sebagai ahli ketaatan, itulah nikmat terbesar untukmu dari-Nya.

Mustahil Allah menangguhkan balasan pahala bagi hamba yang beramal baik kepada-Nya secara kontan.

Mustahil Allah menangguhkan balasan pahala bagi hamba yang beramal baik kepada-Nya secara kontan.
”Kontan” di sini bermakna menghadap Allah melalui bermacam ketaatan dan tanpa menunda-nunda. Bila Allah tidak langsung memberinya pahala, itu adalah hak Allah. Namun, itu bukanlah kebiasaan Tuhan Yang Maha Mulia dan Maha Kuasa. Pahala amal tidak hanya di beri di hari akhir. Allah terkadang, memberikan sebagian pahala untuk beberapa orang wali-Nya di dunia untuk mendorong mereka agar terus bersungguh-sungguh dahlam beramal.
Dengan demikian, para wali itu langsung merasa bahwa amalnya dikabulkan Allah.

Friday, October 30, 2015

Pemberian dari makhluk adalah keterhalangan, sedangkan penangguhan pemberian dari Allah merupakan karunia.

Jika kau terima pemberiaan dari seorang manusia seraya kau lalai dari Tuhanmu, maka pemberian itu sejatinya merupakan keterhalanganmu dari karunia Allah. Karena dalam hal ini kau tidak melihat Allah dan terlalu menggantungkan diri pada nasib mujurmu.

Jika Allah enggan memberimu, sesungguhnya itu adalah karunia untukmu. Dengan cara itu, hatimu tidak akan pernah melupakan-Nya. Walaupun secara lahir Allah tidak memberimu, namun secara batin itu adalah pemberian-Nya kepadamu. Allah memaksamu untuk berdiri di depan pintu-Nya dan membebaskanmu dari hijab-Nya.

Kesimpulannya, pemberian dari makhluk adalah keterhalangan karena di dalamnya tersimpan kecintaanmu terhadap mereka akibat pemberian itu. Kau pasti selalu mengikuti keinginan mereka agar bisa mengambil pemberian itu. Sementara itu, penangguhan pemberiaan Allah merupakan kebaikan untukmu karena Dia adalah kekasihmu. Setiap yang dilakukan seorang kekasih, tentu dicintai oleh yang mengasihinya. 

Perjalanan singkat yang sesungguhnya adalah bila memperpendek jarak dunia sehingga engkau dapat melihat akhirat lebih dekat kepadamu.

“memperpendek jarak dunia” adalah dengan menjahuinya, tidak menyibukkan diri dengan kenikmatan dan syahwatnya, dan tidak terlena disana. “
“Akherat lebih dekat” bermakna ia selalu di depan matamu dan tidak jauh dari hatimu. Inilah singkatnya perjalanan yang sebenarnya. Dengannya, Allah memuliakan para wali-Nya. Dengannya pula, ‘ubudiyyah mereka terwujud sempurna.

Singkatnya perjalanan bukan dengan dipendekkannya jarak bumi untuk para pengembara yang mencari kebenaran karena bisa jadi pengembaraan mereka hanyalah kedok dan tipuan belaka. Bukan pula dengan disingkatnya malam dan siang bagi orang yang banyak bangun malam dan berpuasa karena bisa jadi, amalnya itu mungkin disertai Riya’ dan ‘ujub sehingga akibatnya malah kerugian.

Jarak dunia ini tidak mungkin bisa disingkat untuk seorang hamba, kecuali cahaya keyakinan dalam hatinya terpancar. Saat itu, dunia akan sirna dari matanya dan dia melihat akhirat hadir di hadapannya atau ada pada dirinya. Siapa yang penyaksiaanya seperti ini maka pada dirinya tidak aka nada kecintaan terhadap dunia karena ia menggantinya dengan yang lebih abadi yaitu akhirat.


Apabila cahaya keyakinan (nurul yaqin) belum terpancar dari hatinya, ia akan selalu mencintai dunia, merasa tenan dan nyaman, lebih mengutamakannya daripada akhirat dan menjauhi Tuhannya. Hal itu dikarenakan, keyakinan dan ketaqwaannya lemah.